Bahan yang digunakan untuk Program English Day yang dilaksanakan setiap hari sabtu di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara
(Saturday,
1st February 2020)
Good morning friends! Today, we are
going to tell you a story about the lost watch
(Selamat
pagi teman-teman! Hari ini, kami akan menceritakan sebuah cerita tentang Jam
yang Hilang)
There
once was a farmer who discovered that he had lost his watch in the barn. It was
no ordinary watch because it had sentimental value for him.
(Pada suatu ketika, ada seorang
petani yang sedang mencari-cari karena dia telah kehilangan jam tangannya di
sebuah lumbung. Itu bukan jam biasa karena memiliki nilai yang berharga bagi si
petani tersebut.)
After
searching high and low among the hay for a long a while, he gave up and
enlisted the help of a group children playing outside the barn.
(Setelah mencari ke atas dan ke
bawah tumpukan jerami selama beberapa waktu, dia menyerah dan akhirnya mencari
bantuan dari sekelompok anak-anak yang sedang bermain di luar lumbung.)
The
farmer promised them that the person who found it would be rewarded.
( Petani itu pun berjanji kepada
mereka bahwa bagi siapa yang menemukan jam tangannya akan diberi hadiah.)
Hearing
this, the children hurried inside the barn, went through and around the entire
stack of hay but still could not find the watch. Just when the farmer was about
to give up looking for his watch, a little boy went up to him and asked to be
given another chance.
(Mendengar hal tersebut, anak-anak
itu pun bergegas masuk ke dalam lumbung padi, melewati dan mengitari tumpukan
jerami, tetapi tetap saja mereka masih belum menemukan jam tangan si petani
tersebut. Hanya saja ketika si petani menyerah mencari jam tangannya, seorang
anak kecil datang mendekat padanya dan meminta agar diberi kesempatan lagi
untuk mencari jam tangan itu.)
The
farmer looked at him and thought, “Why not? After all,this kid looks sincere
enough.”
(Petani melihatnya sejenak dan
berpikir, “ Mengapa tidak? Setelah semua ini, anak ini kelihatan cukup tulus.”)
So
the farmer sent the little boy back in the barn. After a while the little boy
came out with the watch in his hand. The farmer was both happy and surprised
and so he asked the boy how he succeeded where the rest had failed.
(Sehingga petani itu menyuruh anak
laki-laki itu kembali masuk ke lumbung. Setelah beberapa lama, si anak kecil
itu keluar dengan jam tangan di tangannya. Petani itu pun senang dan terkejut
dan dia menanyakan kepada anak kecil itu bagaimana dia bisa berhasil menemukan
jam tangan itu sementara yang lainnya gagal.)
The
boy replied, “ I did nothing but sit on the ground and listen. In the silence,
I heard the ticking of the watch and just looked for it in that direction. And
finally I found it.
(si anak laki-laki itu pun
menjawab, “ Saya tidak melakukan apapun
tapi saya hanya duduk di tanah dan mendengar. Dalam keheningan, saya
dengar suara detak jam tangan dan mengikuti arah suara detak jam sebagi
petunjuk. Dan akhirnya saya pun menemukan jam tangan itu.)
The moral values of the story are:
1.
Do not ever give up to do something!
2.
Give other people the chance to prove
their ability!
3.
Unsual way may lead us to success
(Pesan moral dari cerita tadi adalah:
1.
Jangan
pernah menyerah dalam mengerjakan sesuatu!
2.
Berikanlah
kesempatan kepada orang lain untuk membuktikan kemampuannya!
3.
Cara
yang tidak biasa mungkin mengarahkan kita ke arah sukses.)
That’s
our story about The Lost Watch from grade 9.3. We hope you enjoy to listen to
our story. For your attention we say Thank you so much.
(Demikianlah
cerita kami tentang Jam tangan hilang dari kelas 9.3 Kami harap teman-teman sekalian senang
mendengar cerita kami. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih).
enny27091986@gmail.com
ENGLISH
DAY
(27th July 2019- Class 9.3)
Good morning our friends! Today, my
friend and I would like to tell you a story. The story is about A Mocker Camel.
(Selamat pagi teman-teman kami semua. Hari ini, teman saya dan
saya akan menceritakan kepada kalian sebuah cerita. Cerita tentang seekor Unta
pengejek)
Once upon a time there lived a camel. The camel lived in a forest. He had a
very bad habit of teasing or insulting other animals for their appearance. He
would tease the elephant and say, "Oh! How fat and ugly you look. God has
given two tails one in the back and one in the front."
(Pada suatu ketika hiduplah seekor unta. Unta tersebut tinggal di
sebuah hutan. Dia mempunyai sebuah kebiasaan sangat buruk yaitu suka mengusik
dan menghina penampilan hewan-hewan yang lain yang tinggal di dalam hutan.
Contohnya saja kepada seekor kerbau dia berkata,”Ohhhh! Betapa gemuk dan
jeleknya penampilanmu. Tuhan telah memberikan dua ekor kepadamu, satu di depan
satu lagi di belakang.)
To the rhinoceros, he would comment, "All animals have two horns and you
are queer-looking with just one horn on your nose."
(Kepada seekor Badak, si Unta berkata, “ Semua binatang rata-rata mempunyai
dua tanduk dan kamu kelihatan aneh karena kamu hanya punya satu tanduk itupun
di atas hidungmu”)
When he would meet the zebra, he would always comment, "Ah! Here you are
with crooked black lines all over you. What is the use of them
anyway?"
(Ketika si Unta bertemu dengan seekor zebra, dia akan selalu
berkomentar, Ahhh! Inilah penampilan anehmu dengan garis garis hitam di sekujur
tubuhmu. Apa kegunaanya ya? )
All the animals felt bad at this. One
day, a frank monkey met the camel and said, "Oh! Mr. Camel! Where are you
going with that ugly hunch on your back?
Look at your long and crooked neck on
such a small body. What do you do with such a long neck?" Look at yourself
first! How ugly you are!
(Semua binatang yang bertemu dengan si
Unta pasti merasa sakit hati atas perkataanya. Tetapi pada suatu hari,
datanglah seekor monyet yang suka blak-blakan berkata kepada Unta, “Oh! Tuan
Unta! Kamu mau pergi kemana dengan punukmu yang jelek itu di punggungmu ya?
) Coba perhatikan lehermu yang panjang
dan melengkung pada tubuhmu yang kecil. Apa yang bisa kamu lakukan terhadap
lehermu yang panjang itu. Lihat dulu dirimu! Betapa jeleknya kamu!
Finally, the camel felt
hurt at such words. He felt one thing. He learnt a lesson. Now he knew how the
others felt at his comments. So he promised to stop that bad habit from that
day itself. He would not tease and mock his other friend.
(Pada akhirnya, si Unta pun merasa sakit hati atas perkataan si
Monyet. Dia merasakan suatu hal. Dia akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya
jika diejek oleh binatang lain. Dan dia mengingat setiap ejekkannya selama ini
terhadap semua binatang di hutan. Dan dia berjanji pada diri sendiri bahwa diat
akan bertobat tidak lagi melakukan kebiasan kebiasaan buruk itu yaitu suka
mengejek atau mengina kehidupan yang lain. )
The moral lessons that we can learn from the story
are:
·
Do not ever mock or
insult your friend because of their looking
·
Respect your friends
that are different from you because God create something or someone with their
uniqueness in our life
Pelajaran
moral yang dapat kita ambil dari cerita di atas adalah:
·
Jangan
pernah mengejek atau menghina temanmu karena penampilan fisiknya.
·
Hargailah
teman-temanmu yang berbeda denganmu karena Tuhan menciptakan sesuatu itu dengan
keunikannya masing masing.
So,
that is our story telling from class 9.3.
about A MOCKER CAMEL. We hope enjoy our story. For your attention, we say thank
you so much.
(Demikian Story telling dari 9.3. Kami harap
teman-teman menyukai cerita ini. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar