Selasa, 01 September 2020

STORY TELLING

Bahan yang digunakan untuk Program English Day yang dilaksanakan setiap hari sabtu di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara

(Saturday, 1st February 2020)

 

Good morning friends! Today, we are going to tell you a story about the lost watch

(Selamat pagi teman-teman! Hari ini, kami akan menceritakan sebuah cerita tentang Jam yang Hilang)

 

There once was a farmer who discovered that he had lost his watch in the barn. It was no ordinary watch because it had sentimental value for him.

(Pada suatu ketika, ada seorang petani yang sedang mencari-cari karena dia telah kehilangan jam tangannya di sebuah lumbung. Itu bukan jam biasa karena memiliki nilai yang berharga bagi si petani tersebut.)

After searching high and low among the hay for a long a while, he gave up and enlisted the help of a group children playing outside the barn.

(Setelah mencari ke atas dan ke bawah tumpukan jerami selama beberapa waktu, dia menyerah dan akhirnya mencari bantuan dari sekelompok anak-anak yang sedang bermain di luar lumbung.)

The farmer promised them that the person who found it would be rewarded.

( Petani itu pun berjanji kepada mereka bahwa bagi siapa yang menemukan jam tangannya akan diberi hadiah.)

Hearing this, the children hurried inside the barn, went through and around the entire stack of hay but still could not find the watch. Just when the farmer was about to give up looking for his watch, a little boy went up to him and asked to be given another chance.

(Mendengar hal tersebut, anak-anak itu pun bergegas masuk ke dalam lumbung padi, melewati dan mengitari tumpukan jerami, tetapi tetap saja mereka masih belum menemukan jam tangan si petani tersebut. Hanya saja ketika si petani menyerah mencari jam tangannya, seorang anak kecil datang mendekat padanya dan meminta agar diberi kesempatan lagi untuk mencari jam tangan itu.)

The farmer looked at him and thought, “Why not? After all,this kid looks sincere enough.”

(Petani melihatnya sejenak dan berpikir, “ Mengapa tidak? Setelah semua ini, anak ini kelihatan cukup tulus.”)

So the farmer sent the little boy back in the barn. After a while the little boy came out with the watch in his hand. The farmer was both happy and surprised and so he asked the boy how he succeeded where the rest had failed.

(Sehingga petani itu menyuruh anak laki-laki itu kembali masuk ke lumbung. Setelah beberapa lama, si anak kecil itu keluar dengan jam tangan di tangannya. Petani itu pun senang dan terkejut dan dia menanyakan kepada anak kecil itu bagaimana dia bisa berhasil menemukan jam tangan itu sementara yang lainnya gagal.)

The boy replied, “ I did nothing but sit on the ground and listen. In the silence, I heard the ticking of the watch and just looked for it in that direction. And finally I found it.

(si anak laki-laki itu pun menjawab, “ Saya tidak melakukan apapun  tapi saya hanya duduk di tanah dan mendengar. Dalam keheningan, saya dengar suara detak jam tangan dan mengikuti arah suara detak jam sebagi petunjuk. Dan akhirnya saya pun menemukan jam tangan itu.)

The moral values of the story are:

1.      Do not ever give up to do something!

2.      Give other people the chance to prove their ability!

3.      Unsual way may lead us to success

 (Pesan moral dari cerita tadi adalah:

1.      Jangan pernah menyerah dalam mengerjakan sesuatu!

2.      Berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk membuktikan kemampuannya!

3.      Cara yang tidak biasa mungkin mengarahkan kita ke arah sukses.)

 

That’s our story about The Lost Watch from grade 9.3. We hope you enjoy to listen to our story. For your attention we say Thank you so much.

 (Demikianlah cerita kami tentang Jam tangan hilang dari kelas 9.3  Kami harap teman-teman sekalian senang mendengar cerita kami. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih).

 enny27091986@gmail.com

 

ENGLISH DAY

(27th July 2019- Class 9.3)

Good morning our friends! Today, my friend and I would like to tell you a story. The story is about A Mocker Camel.

(Selamat pagi teman-teman kami semua. Hari ini, teman saya dan saya akan menceritakan kepada kalian sebuah cerita. Cerita tentang seekor Unta pengejek)


Once upon a time there lived a camel. The camel lived in a forest. He had a very bad habit of teasing or insulting other animals for their appearance. He would tease the elephant and say, "Oh! How fat and ugly you look. God has given two tails one in the back and one in the front." 

(Pada suatu ketika hiduplah seekor unta. Unta tersebut tinggal di sebuah hutan. Dia mempunyai sebuah kebiasaan sangat buruk yaitu suka mengusik dan menghina penampilan hewan-hewan yang lain yang tinggal di dalam hutan. Contohnya saja kepada seekor kerbau dia berkata,”Ohhhh! Betapa gemuk dan jeleknya penampilanmu. Tuhan telah memberikan dua ekor kepadamu, satu di depan satu lagi di belakang.)


To the rhinoceros, he would comment, "All animals have two horns and you are queer-looking with just one horn on your nose." 

(Kepada seekor Badak, si Unta berkata, “ Semua binatang rata-rata mempunyai dua tanduk dan kamu kelihatan aneh karena kamu hanya punya satu tanduk itupun di atas hidungmu”)


When he would meet the zebra, he would always comment, "Ah! Here you are with crooked black lines all over you. What is the use of them anyway?" 

(Ketika si Unta bertemu dengan seekor zebra, dia akan selalu berkomentar, Ahhh! Inilah penampilan anehmu dengan garis garis hitam di sekujur tubuhmu. Apa kegunaanya ya? )

All the animals felt bad at this. One day, a frank monkey met the camel and said, "Oh! Mr. Camel! Where are you going with that ugly hunch on your back? 

Look at your long and crooked neck on such a small body. What do you do with such a long neck?" Look at yourself first! How ugly you are!
(Semua binatang yang bertemu dengan si Unta pasti merasa sakit hati atas perkataanya. Tetapi pada suatu hari, datanglah seekor monyet yang suka blak-blakan berkata kepada Unta, “Oh! Tuan Unta! Kamu mau pergi kemana dengan punukmu yang jelek itu di punggungmu ya? ) Coba perhatikan lehermu yang panjang dan melengkung pada tubuhmu yang kecil. Apa yang bisa kamu lakukan terhadap lehermu yang panjang itu. Lihat dulu dirimu! Betapa jeleknya kamu!

Finally, the camel felt hurt at such words. He felt one thing. He learnt a lesson. Now he knew how the others felt at his comments. So he promised to stop that bad habit from that day itself. He would not tease and mock his other friend.

(Pada akhirnya, si Unta pun merasa sakit hati atas perkataan si Monyet. Dia merasakan suatu hal. Dia akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya jika diejek oleh binatang lain. Dan dia mengingat setiap ejekkannya selama ini terhadap semua binatang di hutan. Dan dia berjanji pada diri sendiri bahwa diat akan bertobat tidak lagi melakukan kebiasan kebiasaan buruk itu yaitu suka mengejek atau mengina kehidupan yang lain. ) 


The moral lessons that we can learn from the story are:

·         Do not ever mock or insult your friend because of their looking

·         Respect your friends that are different from you because God create something or someone with their uniqueness in our life

Pelajaran moral yang dapat kita ambil dari cerita di atas adalah:

·         Jangan pernah mengejek atau menghina temanmu karena penampilan fisiknya.

·         Hargailah teman-temanmu yang berbeda denganmu karena Tuhan menciptakan sesuatu itu dengan keunikannya masing masing.

So, that is our story telling from class 9.3. about A MOCKER CAMEL. We hope enjoy our story. For your attention, we say thank you so much.

 (Demikian Story telling dari 9.3. Kami harap teman-teman menyukai cerita ini. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih

 

 

 

 

 



 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOAL UTS BAHASA INGGRIS KELAS IX Semester Ganjil

  UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS) SMP   NEGERI 2 NAINGGOLAN Mata Pelajaran                    : Bahasa Inggris Kelas                      ...