Selasa, 01 September 2020

LAPORAN BEST PRACTICE- DIKLAT PKP

 

LAPORAN BEST PRACTICE KEGIATAN PKP ZONASI TAHUN 2019

 

 

PEMBELAJARAN TEKS INFORMATION REPORT MELALUI PENDEKATAN SAINTIFIK DENGAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 2 NAINGGOLAN TP. 2019/2020

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH :

ENNI NURIATI SINAGA, S.Pd

NIP. 19860927 200904 2 002

 

 

 

 

 

 

 

PEMERINTAH KABUPATEN SAMOSIR

DINAS PENDIDIKAN

SMP NEGERI 2 NAINGGOLAN

2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HALAMAN PENGESAHAN

 

 

 

 

LAPORAN DALAM BENTUK BEST PRACTICE :

PEMBELAJARAN TEKS INFORMATION REPORT MELALUI PENDEKATAN SAINTIFIK DENGAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 2 NAINGGOLAN TP. 2019/2020

 

Disusun Oleh:

Nama : ENNI NURIATI SINAGA, S.Pd

Asal Sekolah : SMP Negeri 2 Nainggolan

 

 

Telah disetujui dan disahkan pada / oleh :

 

Hari : Jumat,

Tanggal : 13 Desember 2019

 

 

 

 

BIODATA PENULIS

 

 

 

 1

NAMA

ENNI NURIATI SINAGA, S.Pd

2

NIP

19860927 200904 2 002

3

NUPTK

6259764665300063

4

JABATAN

Guru Mata Pelajaran

5

PANGKAT / GOL.RUANG

Penata / III/c

6

TEMPAT / TANGGAL LAHIR

Sosor Bulu / 27 September 1986

7

JENIS KELAMIN

Perempuan

8

AGAMA

Katolik

9

PENDIDIKAN TERKAHIR

S.1

10

UNIT KERJA

SMP NEGERI 2 NAINGGOLAN

11

ALAMAT SEKOLAH

Jl. Pelajar Kec. Nainggolan Kab. Samosir

12

NO HP

081370824751

13

Alamat e-mail

enny27091986@gmail.com

 

                                              Nainggolan,   Desember 2019

                                                     

 

                               

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, atas rahmat dan berkatNya sehingga penyusunan laporan Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) berbasis zonasi ini dapat terselesaikan dengan baik. Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi merupakan salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan siswa terbaik. PKP ini dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kemendikbud yang menekankan pembelajaran berorientasi Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Oleh karena itu, Laporan PKP zonasi ini disusun dalam rangka meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar Bahasa Inggris sehingga dapat mengaplikasikan pembelajaran tingkat tinggi yang berbasis HOTS. Penulisan laporan PKP zonasi ini dapat selesai berkat bantuan berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Samosir Bapak Rikardo Hutajulu, M.Pd

2. Kepala SMP Negeri 2 Nainggolan Ibu Saudur Pandiangan, S.Pd  yang telah memberi izin, kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian ini.

3. Guru inti/ guru pengampu Ibu Mersi Sona Ati Sirait, S.Pd yang telah memberi bimbingan dalam penulisan laporan best practice ini.

4. Semua rekan guru di SMP Negeri 2 Nainggolan yang telah memberi bantuan selama proses penelitian sampai dengan terwujud dalam bentuk Best Practice ini.

5. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan banyak bantuan dalam menyelesaikan best practice ini.

Laporan PKP zonasi ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik agar ada perbaikan untuk penelitian selanjutnya. Semoga hasil laporan PKP zonasi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis, sekolah dan siswa. Hasil laporan PKP zonasi ini diharapkan dapat bermanfaat juga untuk proses pembelajaran. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Nainggolan,   Desember 2019

Penulis

 

 

ENNI NURIATI SINAGA, S.Pd

NIP.1986 0927 200904 2 002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

 

LEMBAR JUDUL 

 

HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………………

i

BIODATA PENULIS  …………………………………………………………….

ii

KATA PENGANTAR  ……………………………………………………………

iii

DAFTAR ISI  ……………………………………………………………………..

iv

DAFTAR LAMPIRAN  ………………………………………………………….

v

 

BAB I PENDAHULUAN 

 

A.    Latar Belakang Masalah  ……………………………………………………...

1

B.     Jenis Kegiatan  ………………………………………………………………..

3

C.     Manfaat Kegiatan  …………………………………………………………….

4

 

BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN 

 

A.    Tujuan dan Sasaran  ………………………………………………………….

5

B.     Bahan/Materi Kegiatan  ………………………………………………………

5

C.     Metode/Cara Melaksanakan Kegiatan  ……………………………………….

6

D.    Alat / Instrumen  ………………………………………………………………

13

E.     Langkah-Langkah Pembelajaran Discovery Learning ……………………..

13

F.      Waktu dan tempat kegiatan  ……………………………………………........

15

 

BAB III HASIL KEGIATAN

 

A.Hasil Kegiatan  ……………………………………………….............................

16

B.Masalah atau kendala yang dihadapi....................................................................

19

C.Cara mengatasi Masalah........................................................................................

20

 

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

A.    Kesimpulan  ………………………………………………………………….

21

B.     Rekomendasi  …………………………………………………………………

21

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................

vi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

 

Lampiran 1      : Foto-Foto Kegiatan

Lampiran 2      : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Lampiran 3      : Bahan Ajar

Lampiran 4      : Kisi-kisi soal pilihan ganda dan uraian

Lampiran 5      : Soal, kunci, dan pedoman penyekoran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

 PENDAHULUAN

 

 

 

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

 

Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi merupakan salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan. Program ini dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kemendikbud yang menekankan pada pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Keterampilan berfikir untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta pemerataan mutu pendidikan, maka pelaksanaan program PKP mempertimbangkan pendekatan kewilayahan, atau dikenal dengan istilah zonasi. Zonasi memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat, seperti status akreditasi sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilai rata-rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya.

Dalam kenyataannya, adapun praktik pembelajaran Kurikulum 2013 yang penulis lakukan selama ini, yakni menggunakan buku siswa dan buku guru. Penulis meyakini bahwa buku tersebut sudah sesuai dan baik digunakan di kelas karena diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata, dalam praktiknya, penulis mengalami beberapa kesulitan seperti materi dan tugas tidak sesuai dengan latar belakang siswa. Selain itu, penulis masih berfokus pada penguasaan pengetahuan kognitif yang lebih mementingkan hafalan materi. Dengan demikian proses berpikir siswa masih dalam level C1 (mengingat), memahami (C2), dan C3 (aplikasi). Guru hampir tidak pernah melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/ HOTS). 

Adapun salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah Model Discovery Learning. Model pembelajaran penyingkapan/penemuan (Discovery Learning) adalah memahami konsep, arti, dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan. Discovery terjadi bila individu terlibat terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferensi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilating concepts and principles in the mind

Pada akhirnya setelah melaksanakan pembelajaran model Discovery  Learning, penulis menemukan bahwa proses dan hasil belajar siswa meningkat. Hasilnya lebih bagus dibandingkan pembelajaran sebelumnya. Ketika Model Discovery ini diterapkan pada kelas IX yang lain ternyata proses dan hasil belalajar siswa sama baiknya. Oleh karena itu penulis melaporkan perbaikan pembelajaran tersebut sebagai kegiatan best practice berjudul Pembelajaran Teks Information Report melalui Pendekatan Saintifik dengan Model Pembelajaran Discovery Learning pada siswa kelas IX SMP Negeri 2 Nainggolan TP. 2019/2020.”

 

B.     JENIS KEGIATAN

Program PKP berbasis Zonasi dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kemendikbud yang menekankan pada pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Keterampilan berfikir tingkat tinggi adalah proses berfikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis dan membangun hubungan dengan melibatkan aktifitas mental yang paling dasar yang sebaiknya dimiliki oleh seorang guru professional.

Penyusunan RPP yang beorientasi pada keterampilan tingkat tinggi berbasis HOTS. Konsep dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis HOT , guru mengkondisikan siswa terlibat aktif  dalam menerima suatu pelajaran dengan prinsip I do and I understand ( Saya melakukan dan saya akan mengerti ) Jika pengajaran keterampilan berpikir kepada siswa belum sampai pada tahap siswa dapat mengerti dan belajar menggunakannya, maka keterampilan berpikir tidak akan banyak bermanfaat. Pembelajaran yang efektif dari suatu keterampilan memiliki empat komponen, yaitu: identifikasi komponen-komponen prosedural, instruksi dan pemodelan langsung, latihan terbimbing, dan latihan bebas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran keterampilan berpikir adalah bahwa keterampilan tersebut harus dilakukan melalui latihan yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak.

Guru berusaha melatihkan kompetensi berpikir tingkat tinggi, siswa hendaknya diberi kesempatan sebagai berikut. 1. Mengajukan pertanyaan yang mengundang berpikir selama proses belajar mengajar berlangsung. 2. Membaca buku-buku yang mendorong untuk melakukan studi lebih lanjut. 3. Memodifikasi atau menolak usulan yang orisinil dari temannya, guru atau dari buku pelajaran. 4. Merasa bebas dalam mengajukan tugas pengganti yang mempunyai potensi kreatif dan kritis. 5. Menerima pengakuan yang sama untuk berpikir kreatif dan kritis seperti juga untuk hasil belajar yang berupa mengingat. 6. Memberikan jawaban yang tidak sama persis dengan yang ada dalam buku, namun konsep atau prinsipnya benar.

Maka jenis kegiatan yang dilaporkan dalam laporan Best Practice ini adalah kegiatan pembelajaran Discovery Learning di kelas IX untuk materi Teks Informational Report. 

 

 

 

C.    MANFAAT KEGIATAN

 

Manfaat penulisan Best Practice ini adalah meningkatkan kompetensi siswa melalui pendekatan saintifik dengan model pembelajaran Discovery Learning yang berorientasi pada HOTS. Manfaat lain dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta pemerataan mutu pendidikan, maka pelaksanaan Program PKP mempertimbangkan pendekatan kewilayahan, atau dikenal dengan istilah zonasi. Zonasi memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat, seperti status akreditasi sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilai rata-rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya. Melalui langkah ini , guru dapat berdiskusi dalam suatu kelompok guru dalam membahas pembelajaran tingkat tinggi yang berbasis HOTS. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan bisa menginspirasi guru untuk mengembangkan materi dan melaksanakan pembelajaran dengan berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PELAKSANAAN KEGIATAN

 

A. TUJUAN DAN SASARAN

1. Tujuan

            Tujuan penulisan Best Practice ini adalah:

·         Untuk mendeskripsikan Best Practice dalam menerapkan pembelajaran Discovery Learning berorientasi higher order thiking skills (HOTS) pada pembelajaran Teks Information Report.

·         Untuk menginspirasi guru dalam mengembangkan materi dan melaksanakan pembelajaran dengan berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat tinggi berbasis HOTS.

2. Sasaran

Sasaran pelaksanaan best practice ini adalah siswa kelas IX di SMP Negeri 2 Nainggolan Kabupaten Samosir sebanyak 32 orang

 

B.     BAHAN/ MATERI KEGIATAN

Bahan/Materi yang digunakan dalam best practice pembelajaran ini adalah materi  kelas IX  tentang teks information Report dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dengan penjabaran kompetensi pengetahuan dan keterampilan sebagai berikut:

No

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

1

3.9 Membandingkan fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan beberapa teks information report lisan dan tulis dengan memberi dan meminta informasi terkait mata pelajaran lain di kelas IX, pendek dan sederhana, sesuai dengan konteks penggunaannya

3.9.1 Menyimpulkan fungsi sosial teks information report lisan dan tulis.

3.9.2 Menyimpulkan struktur teks information report lisan dan tulis.

3.9.3 Menyimpulkan unsur kebahasaan teks information report lisan dan tulis.

 

2

 Teks information Report.

4.9.1. Menangkap makna  secara kontekstual terkait fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks information report lisan dan tulis, sangat pendek dan sederhana, terkait topik yang tercakup dalam mata pelajaran lain di kelas IX.

4.9.2 Menyusun teks information report lisan dan tulis, sangat pendek dan sederhana, terkait topik yang tercakup dalam mata pelajaran lain di kelas IX, dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan, secara benar dan sesuai konteks.

 

4.9.1.1. Mempresentasikan isi teks information report lisan dan tulis sangat pendek dan sederhana di depan kelas.

4.9.2.1. Menciptakan sebuah information report teks tentang informasi terkini saat ini.

 

C.    METODE/ CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

Metode atau cara yang digunakan dalam pelaksanaan best practice ini adalah menerapkan pembelajaran pendekatan saintifik melalui model pembelajaran Discovery Learning. Kemudian kegiatan proses pembelajaran diimplentasikan dalam kegiatan ON-1, ON-2 dan ON-3 di SMP Negeri 2 Nainggolan dengan menggunakan aspek HOTS, 5M, 4 Dimensi Pengetahuan dan Kecapakan Abad 21 sehingga diharapkan siswa mampu menjadi lebih aktif dan interaktif  dalam proses pembelajaran di kelas. Karena K-13 mengamanatkan penerapan pendekatan saintifik (5M) yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/ mengasosiasikan, dan mengomunikasikan maka optimalisasi peran guru sangat diharapkan dalam melaksanakan pembelajaran abad 21 dan HOTS (Higher Order Thinking Skills). Selanjutnya ada integrasi Literasi dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam proses belajar mengajar (PBM).

Pembelajaran pun perlu dilaksanakan secara kontekstual dengan menggunakan model, strategi, metode, dan teknik sesuai dengan karakteristik Kompetensi Dasar (KD) agar tujuan pembelajaran tercapai. Pembelajaran abad 21 secara sederhana diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan kecakapan abad 21 kepada peserta didik, yaitu 4C yang meliputi: (1) Communication (2) Collaboration, (3) Critical Thinking and problem solving, dan (4) Creative and Innovative. Berdasarkan Taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Krathwoll dan Anderson (2001), kemampuan yang perlu dicapai siswa bukan hanya LOTS (Lower Order Thinking Skills) yaitu C1 (mengetahui) dan C-2 (memahami), MOTS (Middle Order Thinking Skills) yaitu C3 (mengaplikasikan) dan C-4 (mengalisis), tetapi juga harus ada peningkatan sampai HOTS (Higher Order Thinking Skills), yaitu C-5 (mengevaluasi), dan C-6 (mengkreasi).Penerapan pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21 (4C), HOTS, dan integrasi Literasi dan PPK dalam pembelajaran.

 Tujuan pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka menjawab tantangan, baik tantangan internal dalam rangka mencapai 8 (delapan) SNP dan tantangan eksternal, yaitu globalisasi. Melalui berbagai pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) K-13 yang telah dilakukan selama ini diharapkan mampu mengubah paradigma guru, juga meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran. Pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21 (4C), HOTS, integrasi literasi dan PPK, dan pembelajaran kontekstual sebenarnya bukan hal yang baru bagi guru. Secara sadar ataupun tidak sebenarnya sudah hal tersebut dilakukan, hanya dalam K-13 lebih ditegaskan lagi untuk dilaksanakan pada PBM, dan hasilnya dilakukan melalui penilaian otentik yang mampu mengukur ketercapaian kompetensi siswa.

Untuk mewujudkan aspek HOTS, 5M, 4 Dimensi Pengetahuan dan Kecapakan Abad 21 di dalam proses pembelajaran di kelas, maka menurut Surya (2014) guru sebagai ujung tombak pebelajaran harus mampu merencanakan dan melaksanakan PBM yang berkualitas. Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu bentuk interaksi antara pihak pengajar dan pelajar yang berlangsung dalam situasi pengajaran dan untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam interaksi itu akan terjadi proses komunikasi timbal balik antara pihak-pihak yang terkait yaitu antara guru dan selaku pengajar dan siswa selaku pelajar.Perilaku belajar yang terjadi pada pada diri siswa timbul sebagai akibat perilaku mengajar pada guru yang terkait melalui melalui suatu bentuk komunikasi. Jenis komunikasi yang terjadi dalam proses belajar mengajar disebut sebagai komunikasi instruksional yang didalamnya terkait komunikasi dua arah antara pengajar dan pelajar.

Oleh karena itu, komunikasi jenis ini disebut sebagai komunikasi dialogis. Dengan komunikasi jenis ini, terjadilah perilaku mengajar dan perilaku belajar yang saling terkait satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan insruksional.Untuk mewujudkan pembelajaran abad 21 dan HOTS, guru harus memiliki keterampilan proses yang baik dalam pembelajaran. Keterampilan proses dapat diartikan sebagai keterampilan guru dalam menyajikan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Pembelajaran  berpusat kepada siswa (student center), dan merangsang siswa untuk menyelesaikan masalah. Peran guru dalam PBM bukan hanya sebagai sumber belajar, tapi juga sebagai fasilitator. Keterampilan proses merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut.

Menurut Mulyasa ( (2006) ada 8 (delapan) keterampilan yang harus dimiliki oleh guru untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, antara lain (1) keterampilan bertanya, (2) memberikan penguatan, (3)mengadakan variasi, (4) menjelaskan, (5) membuka dan menutup pelajaran, (6) membimbing diskusi kelompok kecil, (7) mengelola kelas, dan (8) mengajar kelompok kecil dan perorangan. Langkah-langkah kegiatan inti antara lain; guru menjelaskan materi, guru menerapkan model, strategi, metode, dan teknik mengajar yang telah ditetapkan dalam RPP. Kegiatan inti merupakan jantungnya pembelajaran. Disitulah pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21, HOTS, integrasi literasi dan PPK diterapkan. Walau skenarionya  telah disusun dalam RPP, tetapi dalam prakteknya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi kelas. Oleh karena itu, guru harus memiliki kepekaan dan cepat mengambil keputusan untuk menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan.Langkah-langkah kegiatan penutup antara lain; guru mengajak siswa untuk menyimpulkan materi, melakukan refleksi, dan menyusun program tindak lanjut. Menurut Azhar (2011) keterampilan proses merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut. 

Berikut ini adalah langkah-langkah pelaksanaan best practice yang telah dilakukan penulis.

1.             Pemetaan KD

Pemetaan KD dilakukan untuk menentukan pasangan KD yang dapat diterapkan dalam pembelajara problem best learning. Berdasarkan hasil telaah KD yang ada di kelas IX, penulis memilih materi Teks information Report di kelas IX.

2.             Analisis Target Kompetensi

3.             Perumusan Indikator Pencapaian Kompetesi

4.             Pemilihan Model Pembelajaran

Model pembelajaran yang dipilih adalah Discovery Learning..

5.             Merencanakan kegiatan Pembelajaran sesuai dengan Model Pembelajaran

   Pengembangan desain pembelajaran dilakukan dengan merinci kegiatan pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan sintak Discovery Learning.

Berikut ini adalah rencana kegiatan pembelajaran yang dikembangkan  berdasarkan model Discovery Learning:

Ø  Sintak model Discovery Learning
1) Pemberian rangsangan (Stimulation);
2) Pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement);
3) Pengumpulan data (Data Collection);
4) Pengolahan data (Data Processing);
5) Pembuktian (Verification), dan
6) Menarik simpulan/generalisasi (Generalization).

LANGKAH KERJA

AKTIVITAS GURU

AKTIVITAS PESERTA DIDIK

Pemberian

rangsangan

(Stimulation)

Guru memulai kegiatan

pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

·         Peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.

·         Stimulasi pada fase ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan.

Pernyataan/

Identifikasi

masalah

(Problem

Statement)

Guru memberi kesempatan

kepada peserta didik untuk

mengidentifikasi sebanyak

mungkin agenda-agenda

masalah yang relevan dengan

bahan pelajaran, kemudian

salah satunya dipilih dan

dirumuskan dalam bentuk

hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).

Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.

Pengumpu-lan data

(Data

Collection)

Ketika eksplorasi berlangsung

guru juga memberi

kesempatan kepada para

peserta didik untuk

mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.

Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya

hipotesis.

Dengan demikian peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection)

berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

Pengolahan

data (Data

Processing)

Guru melakukan bimbingan

pada saat peserta didik

melakukan pengolahan data.

Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi baik melalui

wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.

Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah,

diacak, diklasifikasikan, ditabulasi,

bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.

Pembuktian

(Verification)

Verifikasi bertujuan agar

proses belajar akan berjalan

dengan baik dan kreatif jika

guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman

melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.

Peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi

dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data.

Menarik simpulan/

generalisasi

(Generalization)

Proses menarik sebuah

kesimpulan yang dapat

dijadikan prinsip umum dan

berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil

verifikasi.

Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi.

 

6.   Penyusunan Perangkat Pembelajaran

Berdasarkan hasil kerja 1 hingga 5 di atas kemudian disusun perangkat pembelajaran meliputi RPP, bahan ajar, dan instrumen penilaian. RPP disusun dengan mengintegrasikan kegiatan literasi, penguatan pendidikan karakter (PPK), dan kecakapan abad 21.

 

D.    Media dan Instrumen

Media dan instrumen yang digunakan  selama implementasi kegiatan pembelajaran yang dilakukan di SMPN Negeri 2 Nainggolan adalah:

a.         Lembar kertas yang berisi teks information report

b.         Lembar Kerja Siswa atau work sheet sebagai evaluasi atau penilaian

c.         Instrumen untuk mengamati proses pembelajaran  berupa lembar observasi.

d.        Instrumen untuk melihat hasil belajar siswa dengan menggunakan tes tulis pilihan ganda dan uraian singkat.

Pembelajaran Discovery Learning

Pembelajaran discovery Learning dapat:

  • Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
  • Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer.
  • Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
  • Model pembelajaran ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri.
  • Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
  • Model pembelajaran discovery learning ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.
  • Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan guru pun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.
  • Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada  kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
  • Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik;
  • Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar  yang baru;
  • Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri;
  • Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri;
  • Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik; Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang;
  • Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia  seutuhnya;
  • Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa;
  • Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar;
  • Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.

E.     Waktu dan Tempat Kegiatan

 

Best practice ini dilaksanakan pada tanggal 21 November sampai 14 Desember tahun 2019 bertempat di SMP Negeri 2 Nainggolan dan SMP N 1 Palipi. Diimplementasikannya kurikulum 2013 (K-13) membawa konsekuensi guru yang harus semakin berkualitas dalam melaksanaan kegiatan pembelajaran. Karena K-13 mengamanatkan penerapan pendekatan saintifik (5M) yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/ mengasosiasikan, dan mengomunikasikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL KEGIATAN

 

A.           Hasil

Hasil yang dapat dilaporkan dari Model Pembelajaran Discovery Learning ini diuraikan sebagai berikut.

1.             Proses pembelajaran Discovery Learning yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning berlangsung dengan baik. Peserta didik menjadi lebih aktif merespon pertanyaan dari guru, termasuk mengajukan pertanyaan pada guru maupun temannya. Aktifitas pembelajaran yang dirancang sesuai sintak Discovery Learning megharuskan siswa aktif selama proses pembelajaran. 

2.             Pembelajaran Discovery Learning yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning meningkatkan kemampuan Peserta didik dalam melakukan transfer knowledge. Setelah membaca, meringkas, dan mendiskusikan teks information report, siswa tidak hanya memahami fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan dari teks information report (pengetahuan konseptual), tetapi juga memahami konsep modernisasi. Pemahaman ini menjadi dasar peserta didik dalam mempelajari materi Bahasa Inggris tentang teks information report. Pemahaman tentang konsep teks report membantu peserta didik dalam menganalisis fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan dari teks information report. Pemahaman siswa tentang teks information report dapat menjadi pengantar bagi peserta didik untuk bisa memperaktikannya dan diharapkan bisa mempresentasikan isi teks information report lisan dan tulis sangat pendek dan sederhana di depan kelas dan menciptakan sebuah information report teks tentang informasi terkini saat ini.

 

3.             Penerapan model pembelajaran Discovery Learning meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis. Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi siswa untuk bertanya dan menanggapi topik yang dibahas dalam pembelajaran.

Dalam pembelajaran sebelumnya yang dilakukan penulis tanpa berorientasi HOTS suasana kelas cenderung sepi dan serius. Peserta didik cenderung bekerja sendiri-sendiri untuk berlomba menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Fokus guru adalah bagaimana siswa dapat menyelesikan soal yang disajikan. kurang peduli pada proses berpikir peserta didik. Tak hanya itu, materi pembelajaran yang selama ini selalu disajikan dengan pola deduktif (diawali dengan ceramah teori tentang materi yang dipelajari, pemberian tugas, dan pembahasa), membuat peserta didik cenderung menghapalkan teori. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik adalah apa yang diajarkan oleh guru. Berbeda kondisinya dengan best practice pembelajaran Discovery Learning berorientasi HOTS. Dalam pembelajaran ini pemahaman peserta didik tentang konsep sistem pola makan sehat pada manusia benar-benar dibangun oleh peserta didik melalui pengamatan dan diskusi yang menuntut kemampuan siswa untuk berpikir kritis.

B. PENERAPAN  PEMBELAJARAN HOTS

Untuk mewujudkan aspek HOTS, 5M, 4 Dimensi Pengetahuan dan Kecapakan Abad 21 di dalam proses pembelajaran di SMPN Air Satan, maka guru sebagai ujung tombak pebelajaran harus mampu merencanakan dan melaksanakan PBM yang berkualitas. Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu bentuk interaksi antara pihak pengajar dan pelajar yang berlangsung dalam situasi pengajaran dan untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam interaksi itu akan terjadi proses komunikasi timbal balik antara pihak-pihak yang terkait yaitu antara guru dan selaku pengajar dan siswa selaku pelajar. Perilaku belajar yang terjadi pada pada diri siswa timbul sebagai akibat perilaku mengajar pada guru yang terkait melalui melalui suatu bentuk komunikasi. Jenis komunikasi yang terjadi dalam proses belajar mengajar disebut sebagai komunikasi instruksional yang didalamnya terkait komunikasi dua arah antara pengajar dan pelajar. Oleh karena itu, komunikasi jenis ini disebut sebagai komunikasi dialogis. Dengan komunikasi jenis ini, terjadilah perilaku mengajar dan perilaku belajar yang saling terkait satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan insruksional.Untuk mewujudkan pembelajaran abad 21 dan HOTS, guru harus memiliki keterampilan proses yang baik dalam pembelajaran. Keterampilan proses dapat diartikan sebagai keterampilan guru dalam menyajikan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Pembelajaran  berpusat kepada siswa (student center), dan merangsang siswa untuk menyelesaikan masalah. Peran guru dalam PBM bukan hanya sebagai sumber belajar, tapi juga sebagai fasilitator. Keterampilan proses merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut. Ada 8 (delapan) keterampilan yang harus dimiliki oleh guru untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, antara lain (1) keterampilan bertanya, (2) memberikan penguatan, (3mengadakan variasi, (4) menjelaskan, (5) membuka dan menutup pelajaran, (6) membimbing diskusi kelompok kecil, (7) mengelola kelas, dan (8) mengajar kelompok kecil dan perorangan. Langkah-langkah kegiatan inti antara lain; guru menjelaskan materi, guru menerapkan model, strategi, metode, dan teknik mengajar yang telah ditetapkan dalam RPP. Kegiatan inti merupakan jantungnya pembelajaran. Disitulah pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21, HOTS, integrasi literasi dan PPK diterapkan. Walau skenarionya  telah disusun dalam RPP, tetapi dalam prakteknya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi kelas. Oleh karena itu, guru harus memiliki kepekaan dan cepat mengambil keputusan untuk menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan.Langkah-langkah kegiatan penutup antara lain; guru mengajak siswa untuk menyimpulkan materi, melakukan refleksi, dan menyusun program tindak lanjut.

B.            Masalah atau Kendala yang Dihadapi

Masalah atau kendala yang dihadapi adalah:

·  Peserta didik belum terbiasa belajar dengan model Discovery Learning.

·  Guru menggunakan gaya mengajar yang monoton membuat siswa kurang aktif karena dengan gaya mengajar monoton atau ceramah siswa merasa jenuh sehingga materi yang disampaikan tidak dapat di pahami dengan baik. Banyak guru belum dibekali dengan penguasaan pembelajaran kooperatif. Guru pun belum mengoptimalkan keterampilan proses dalam pembelajaran, sehingga masih dominan menggunakan metode ceramah. Pada K-13, semangat pembelajaran aktif mencoba dihidupkan melalui implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran, dimana siswa diarahkan untuk belajar secara aktif, berpikir kritis, mampu berinteraksi dengan baik dengan kelompoknya.

·  Siswa  belum bisa beradaptasi dengan model pembelajaran berorientasi HOTS yang berkaitan dengan penilaian baik pengetahuan, sosial dan keterampilan. Dalam praktiknya hal ini tidak mudah, karena disamping faktor kompetensi guru, juga ada faktor latar belakang (intake) siswa. Kadang guru sudah berupaya mengaktifkan siswa, tetapi mereka lebih banyak yang pasif daripada yang aktif, sehingga pembelajaran tetap kurang hidup atau monoton.

C.           Cara Mengatasi Masalah

Agar siswa yakin bahwa pembelajaran Discovery Learning dapat membantu mereka lebih menguasai materi pembelajaran, guru memberi penjelasan sekilas tentang apa, bagaimana, mengapa, dan manfaat belajar berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS). Pemahaman dan kesadaran akan pentingnya HOTS akan membuat siswa termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu, kesadaran bahwa belajar bukan sekadar menghafal teori dan konsep akan membuat siswa mau belajar dengan HOTS.

Kekurangan siswa dalam memahami materi  pembelajaran dapat diatasi dengan metode diskusi dan presentasi sehingga dapat membuat siswa menjadi aktif dalam pembelajaran dan dapat mencari sumber belajar yang lain melalui media internet. Dengan demikian, selain menerapkan kegiatan literasi baca  tulis, siswa juga dapat meningkatkan literasi digitalnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

 

A.    Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pembelajaran Discovery Learning layak dijadikan best practice pembelajaran berorientasi HOTS  karena dapat meingkatkan kemampuan siswa dalam melakukan transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan pemecahan masalah. 
  2. Dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara sistematis dan cermat, Discovery Learning yang dilaksanakan tidak sekadar berorientasi HOTS, tetapi juga mengintegrasikan PPK, literasi, dan kecakapan abad 21.

 

 

 

C.    Rekomendasi

Berdasarkan hasil best practice pembelajaran Discovery Learning dengan berikut disampaikan rekomendasi yang relevan. Yakni:

  1. Guru seharusnya tidak hanya mengajar dengan mengacu pada buku siswa dan buku guru serta jaring-jaring tema yang telah disediakan, tetapi berani melakukan inovasi pembelajaran Discovery Learning yang sesuai dengan latar belakang siswa dan situasi dan kondisi sekolahnya. Hal ini akan membuat pembelajaran lebih efektif.
  2. Peserta didik diharapkan untuk menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam belajar, tidak terbatas pada hafalan teori. Kemampuan belajar dengan cara ini akan membantu siswa menguasai materi secara lebih mendalam dan lebih tahan lama (tidak mudah lupa).
  3. Sekolah, terutama kepala sekolah dapat mendorong guru lain untuk ikut melaksanakan pembelajaran berorientasi HOTS. Dukungan positif sekolah, seperti penyediaan sarana dan prasarana yang memadai dan kesempatan bagi penulis utuk menginformasikan best Discovery Learning ini akan menambah wawasan guru lain tentang pembelajaran HOTS.

 

DAFTAR  PUSTAKA

 

 

 

 

 

Anderson.L.W dan Krathwol D.R.2001. A Taxonomy for learning,teaching and assessing: A revision of Bloom’s Taxonomy of Education Objectives .New York: Addison Wesley lonman Inc

 

Arsyad ,Azar .2011. Media Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada

 

M Surya .2014.Psikologi pembelajaran dan pengajaran Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

 

Mulyasa. 2009. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN 1:

 FOTO-FOTO KEGIATAN

Kegiatan Pendahuluan:

                 

 

Kegiatan inti:

       

 

               

 

 

                  

 

                

 

        

 

 

 

 

Kegiatan Penutup:

                

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 2: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP )

 

Satuan Pendidikan                  :  SMP Negeri 2 Nainggolan

Mata Pelajaran                        :  Bahasa Inggris

Kelas/ Semester                       :  IX/ Genap

Materi Pokok                          :  Teks Informational Report

Alokasi Waktu                        :  2x 40’

 

A.    Kompetensi Inti (KI)

 

KI-1

:

Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.

KI-2

:

Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun,dan percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauanpergaulan dan keberadaannya.

KI-3

:

Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis dan spesific sederhana berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, dan kenegaraan terkait fenomena dan kejadian tampak mata.

KI-4

:

Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah dan menyaji secara kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif dalam ranah kognitif dan ranah abstrak sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang teori.

 

B.     Kompetensi Dasar (KD), Indikator Pencapaian Kompetensi

No

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

 

Kompetensi Pengetahuan

1.9. Membandingkan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan beberapa teks information report lisan dan tulis dengan memberi dan meminta informasi terkait mata pelajaran lain di Kelas IX, pendek dan sederhana, sesuai dengan konteks penggunaannya

 

1.9.1.         Mengidentifikasi fungsi sosial teks report lisan dan tulisan

1.9.2.         Mengidentifikasi struktur teks report lisan dan tulisan

1.9.3.         Mengidentifikasi unsur kebahasaan teks report lisan dan tulisan

 

 

Kompetensi Keterampilan

 

Teks Information Report

4.9.1. Menangkap makna secara kontekstual terkait fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks information report lisan dan tulis, sangat pendek dan sederhana, terkait topik yang tercakup dalam mata pelajaran lain di Kelas IX

4.9.2 Menyusun teks information report lisan dan tulis, sangat pendek dan sederhana, terkait topik yang tercakup dalam mata pelajaran lain di kelas IX, dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan, secara benar dan sesuai konteks.

 

 

4.9.1.1.      Mempersentasikan isi teks information report lisan dn tulis dangat pendek dan sederhana

4.9.1.2.       Menjelaskan fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan teks information report tulis sangat pendek dan sederhana

 

C.     Tujuan Pembelajaran

Melalui pendekatan saintifik dengan model discovery learning siswa dapat mengidentifikasi, menyalin dan menyimpulkan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks khusus dalam bentuk informational report teks serta membuat sebuah teks informational report teks dengan sikap disiplin, bertanggungjawab dan percaya diri dengan KKM 70.

.

 

D.    Materi Pembelajaran

Teks Information Report

 

E.     Metode Pembelajaran

-       Pendekatan Scientific Approach

-       Model Pembelajaran : Discovery Learning

 

 

 

F.      Media Pembelajaran

-       Slide / tayangan materi (power point)

-       Gambar-gambar tentang Aurora (Natural Phenomenon)

-       Teks report

-       Kertas Kerja

 

G.    Sumber belajar

-       Buku siswa    : Wachidah, Siti, dkk, 2017, When English Rings the Bell, Kelas IX, Edisi  Revisi, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

-       Buku paket penerbit Erlangga kelas IX dan buku BRILIAN penerbit Grafindo

-       Lingkungan sekitar

-       Internet

 

H.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

 

TAHAP PEMBELAJARAN

KEGIATAN PEMBELAJARAN

ALOKASI WAKTU

A.    Kegiatan Pendahuluan

Pendahuluan

(persiapan/orientasi)

·  Pembelajaran dibuka dengan salam dan mengajak berdoa bersama

·  Menyanyikan lagu Kebangsaan: Indonesia Raya

·  Memeriksa kehadiran siswa

·  Guru memperhatikan kesiapan peserta didik dan mengondisikan suasana pembelajaran

 

3

Apersepsi

Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan materi teks information report yang akan dipelajari.

3

Motivasi

 

 

 

 

·  Guru menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas.

·  Guru menyampaikan lingkup penilaian yang meliputi penilaian sikap, penilaian pengetahuan, dan penilaian ketrampilan.

 

4

B.    Kegiatan Inti

Sintak Model Pembelajaran 1

 

 

 

·  Siswa mengamati beberapa gambar terkait informational report text (natural phenomenon: Aurora) yang ditayangkan lewat power point

·  Guru mengajukan pertanyaan terkait isi dari  gambar yang ditayangkan informational report text (natural phenomenon: Aurora)

·  Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan teks melalui bimbingan guru

·  Melalui bimbingan guru siswa menyebutkan         fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan dari teks informational report:” Aurora”

60

Sintak Model Pembelajaran 2

 

 

 

·  Guru membagikan lembar kerja pada setiap kelompok kerja untuk mengerjakan tugas.

·  Mengumpulkan beberapa informasi yang relevan tentang teks informational report sebagai buku sumber untuk menjawab pertanyaan tentang informational report text.( Literasi)

·  Mendiskusikan lembar kerja yang dibagikan oleh guru (Collaboration, critical thinking)

·  Guru menyediakan sebuah teks informational report tentang Aurora dan meminta siswa untuk menjawab dengan benar beberapa pertanyaan terkait teks secara lisan

·  Siswa mengumpulkan data dengan memperhatikan teks report yang diberikan guru.

·  Siswa mendiskusikan dan melakukan analisa terkait teks report diatas

·  Guru melakukan penilaian siswa saat berdiskusi dalam kelompok masing-masing.

 

 

Sintak Model Pembelajaran 3

 

 

 

·  Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas

·  Membandingkan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan beberapa information report text.

·  Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal yang masih belum dipahami.

·  Menyimpulkan hasil presentasi setiap kelompok diskusi

 

C.    Kegiatan Penutup

 

·  Guru bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan tentang pelajaran yang mereka pelajari.

·  Guru melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.

·  Guru memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.

·  Guru melakukan penilaian dengan tes lisan dan pemberian penugasan baik tu­gas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik.

·  Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari pada per­temuan berikutnya serta kegiatan pembelajarannya

·  Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam penutup.

10

 

I.       Penilaian

a.       Teknik Penilaian

1)        Sikap

a.       Sikap spiritual

No.

Teknik

Bentuk

Instrumen

Contoh Butir

Instrumen

Waktu

Pelaksanaan

Keterangan

1.

Observasi

Lembar Observasi (Catatan Jurnal)

Terlampir

Saat

pembelajaran

berlangsung

Penilaian untuk dan

pencapaian

pembelajaran

(assessment for and

of learning)

b.      Sikap sosial

No.

Teknik

Bentuk

Instrumen

Contoh Butir

Instrumen

Waktu

Pelaksanaan

Keterangan

1.

Observasi

Lembar Observasi (Catatan Jurnal)

Terlampir

Saat

pembelajaran

berlangsung

Penilaian untuk dan

pencapaian

pembelajaran

(assessment for and

of learning)

2.

Penilaian

Diri

Lembar Observasi (Catatan Jurnal)

Terlampir

Saat

pembelajaran

usai

Penilaian sebagai

pembelajaran

(assessment as

learning)

3.

Penilaian

antar teman

Lembar Observasi (Catatan Jurnal)

Terlampir

Saat

pembelajaran

usai

Penilaian sebagai

pembelajaran

(assessment as

learning)

 

No.

Aspek yang dinilai

Kriteria

Skor

1

Tanggung jawab

Sangat sering menunjukkan sikap Tanggung jawab

5

Sering menunjukkan sikap Tanggung jawab

4

Beberapa kali menunjukkan sikap Tanggung jawab

3

Jarang menunjukkan sikap Tanggung jawab

2

Tidak pernah menunjukkan sikap Tanggung jawab

1

2

Peduli

Sangat sering menunjukkan sikap peduli

5

Sering menunjukkan sikap peduli

4

Beberapa kali menunjukkan sikap peduli

3

Jarang menunjukkan sikap peduli

2

Tidak pernah menunjukkan sikap peduli

1

3

Kerjasama

Sangat sering menunjukkan sikap kerjasama

5

Sering menunjukkan sikap kerjasama

4

Beberapa kali menunjukkan sikap kerjasama

3

Jarang menunjukkan sikap kerjasama

2

Tidak pernah menunjukkan sikap kerjasama

1

4

Cinta damai

Sangat sering menunjukkan sikap cinta damai

5

Sering menunjukkan sikap cinta damai

4

Beberapa kali menunjukkan sikap cinta damai

3

Jarang menunjukkan sikap cinta damai

2

Tidak pernah menunjukkan sikap cinta damai

1

 

1)   Keterampilan

Penilaian Presentasi: tentang teks informational report

Nama peserta didik: ________    Kelompok: _____       Kelas : _____

 

No.

Aspek yang Dinilai

Baik

Kurang baik

1.

Organisasi presentasi (pengantar, isi, kesimpulan)

 

 

2.

Isi presentasi (kedalaman, logika)

 

 

3.

Koherensi dan kelancaran berbahasa

 

 

4.

Bahasa:

 

 

 

Ucapan

 

 

 

Tata bahasa

 

 

 

Perbendaharaan kata

 

 

5.

Penyajian (tatapan, ekspresi wajah, bahasa tubuh)

 

 

Skor yang dicapai

 

 

Skor maksimum

10

Keterangan:

Baik mendapat skor 2

Kurang baik mendapat skor 1

 

                    i.               Pengetahuan

Jenis Tes : Tertulis dalam bentuk Essay

(Terlampir)

 

 

 

 

Rubrik Penilaian :

No

Uraian

Skor

1.

 

2.

 

3.

 

4.

 

5.

 

6.

Jawaban benar, tata bahasa benar, pilihan kata tepat dan penulisan kata benar

Jawaban benar, tata bahasa kurang tepat, pilihan kata tepat dan penulisan kata benar

Jawaban benar, tata bahasa kurang tepat, pilihan kata kurang tepat dan penulisan kata kurang benar

Jawaban kurang tepat, tata bahasa kurang tepat, pilihan kata kurang tepat dan penulisan kata kurang benar

Jawaban kurang tepat, tata bahasa kurang tepat, pilihan kata salah dan penulisan kata salah

Jawaban salah, tata bahasa salah, pilihan kata salah dan penulisan kata salah

5

 

4

 

3

 

2

 

1

 

0

·         Pedoman Penskoran

N

=

Skor yang diperoleh

X

100

Skor maksimal

 

b.      Pembelajaran Remedial dan Pengayaan

1.    Pembelajaran Remedial

Menulis sebuah  Report text

Berdasarkan hasil analisis penilaian, peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar diberi kegiatan pembelajaran remedial dalam bentuk;

-          bimbingan perorangan jika peserta didik yang belum tuntas ≤ 20%;

-          belajar kelompok jika peserta didik yang belum tuntas antara 20% dan 50%; dan

-          pembelajaran ulang jika peserta didik yang belum tuntas ≥ 50%.

 

2.    Pembelajaran Pengayaan

Berdasarkan hasil analisis penilaian, peserta didik yang sudah mencapai ketuntasan belajar diberi kegiatan pengayaan dalam bentuk penugasan untuk mempelajari soal-soal PAS.

 

Bahan Ajar (Terlampir)

 

Mengetahui,                                                                                              

Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Nainggolan

 

 

 

SAUDUR PANDIANGAN, S.Pd

NIP. 19611212 198302 2 003

 

Nainggolan, Desember 2019

 

Peserta

ENNI NURIATI SINAGA, S.Pd

NIP.19860927 200904 2 002

 

 

Lampiran 3 : Bahan ajar

Bahan Ajar

Teks Informational Report

Teks Report adalah sebuah teks yang menjelaskan gambaran  sesuatu, seseorang, tempat atau benda. Tujuannya adalah untuk menggambarkan sesuatu atau mengungkapkan orang, tempat atau benda tertentu secara umum. Bisa dikatakan juga bahwa Report text adalah teks yang menjelaskan tentang seperti apakah orang atau benda yang dideskripsikan, baik bentuknya, sifat-sifatnya, jumlahnya dan lain-lain.

Report is a text which presents information about something, as it is. It is a result of systematic observation and analyses. (Report adalah sebuah teks yang menghadirkan informasi tentang suatu hal secara apa adanya. Teks ini adalah sebagai hasil dari observasi dan analisa secara sistematis.)  Genre atau jenis teks ini memang ada kesamaan dengan descriptive text dimana baik descriptive text dan report text sama-sama memberikan gambaran secara langsung tentang seseorang atau sesuatu benda. Perbedaanya adalah jika kita berbicara tentang benda atau seseorang secara spesifik seperti warna, nama, style,dsb maka disebut dengan descriptive text. Dan apabila kita berbicara tentang benda atau seseorang secara umum yang meliputi bagian-bagiannya, kekuatannya, fungsinya atau sifat umum lain dari benda atau seseorang itu maka disebut report text

Tujuan (social function) Report Text

The communicative purpose of report text is to present information about something or to describe something in general. The report text generally describes an entire class of things, whether natural or made: mammals, the planets, rocks, plants, countries of region, culture, transportation and so on. Tujuan komunikatif dari report text adalah untuk menghadirkan informasi mengenai sesuatu atau menggambarkan segala sesuatu secara umum. Teks report secara umum menggambarkan keseluruhan dari kelas benda yang dibuat, apakah itu alami atau buatan: mamalia, planet, batuan, tanaman, wilayah negara, budaya, transportasi dan lain sebagainya sehingga pembaca atau reader dapat mengetahui seperti apa sesuatu itu dari gambaran yang disampaikan.

The generic Structure of report Text (Struktur Teks)

Report text mempunyai aturan tersendiri dalam penulisannya, termasuk dalam struktur atau susunan yang harus ditulis secara urut. Maka susunan teks report adalah sebagai berikut:

·         General Classification

Bagian ini berada pada paragraf pertama yang tujuannya adalah untuk memperkenalkan noun yang akan dideskripsikan. General classification of general aspect of thing; animal, public place, plants, etc which will be discussed in general (menyatakan klasifikasi aspek umum beberapa hal berupa: hewan, tempat umum, tanaman dll yang akan dibahas secara umum)

·         Description

Description tells what the phenomenon under discussion; in terms of parts, qualities, habits or behaviours. Pada bagian ini biasanya diberikan gambaran fenomena-fenomena yang terjadi baik bagian-bagiannya, sifat-sifatnya, kebiasannya ataupun tingkah lakunya. Intinya adalah penjabaran dari klasifikasi yang disajikan secara ilmiah.

Ciri-Ciri Report Text (Language features)

Ciri-ciri ini penting untuk diperhatikan dan diketahui oleh siswa agar ketika menulis atau membaca report text tidak salah. Jadi ciri-ciri kebahasaan report text adalah

1.      Menggunakan Simple Present Tense. Mengapa  menggunakan simple present tense? Hal ini karena kita akan menggambarkan sebuah fakta atau kebenaran yang melekat pada sesuatu atau orang. Dan salah satu fungsi dari simple present adalah untuk menggambarkan sebuah fakta atau kebenaran (contoh fakta: matahari itu panas). Menggunakan simple present juga untuk mengindikasikan kebiasaan contohnya Angin topan tropis selalu mulai dari laut.; Oleh karena itu harus selalu menggunakan kata kerja bentuk pertama (verb-1).

2.      Menggunakan  action verbs untuk menggambarkan tingkah laku secara umum. Contohnya Emus cannot fly. Emus tidak bisa terbang.

3.      Menggunakan general nouns atau kata benda umum. General nouns maksudnya adalah suatu benda baik hidup atau mati  yang bersifat umum. Contoh: Anjing pemburu >< Anjingku, hunting dogs >< My dog. Hunting dogs bersifat umum sedangkan anjingku bersifat khusus. Jadi general noun adalah hunting dog.

4.      Dalam report text kita juga akan sering menjumpai relating verb (kata kerja penghubung) yaitu is (seperti pada ciri nomor 1). Is dalam bahasa Indonesia sering diartikan dengan “adalah”. Karena tujuan atau fungsi report text adalah untuk menggambarkan, maka pasti kita akan sering ditemukan kata adalah (is). Relating verbs dalam grammar disebut juga dengan linking verbs. Seperti to be is, am, are: present, seem, look, taste dan lain sebagainya.

5.      Menggunakan technical terms, contohnya isobars are lines drawn on a weather map. Technical terms maksudnya adalah istilah-istilah yang meliputi teks report tersebut. Misalnya tentang mamalia, maka istilah-istilah yang mengenai mamalia harus ada.

 

 

 

 

Contoh report text

                          

 

                         

 

                              

                       

                              

 

 

Aurora

        An Aurora is a natural light display in the sky particularly in the high latitude (Arctic and Antartic) regions, caused by the collision of energetic charged particles with atoms in the high altitude atmosphere (thermosphere). The charged particles originate in the magnetosphere and solar wind are directed by the Earth’s magnetic field into the atmosphere. Most auroras occur in a band known as the aurora zone which is typically 3 to 6 in latitudinal extent and all local times or longitudes.

         Aurora is classified as diffuse or discrete aurora. The diffuse aurora is a featureless glow in the sky which may not be visible to the naked eye even in a dark night and defines the extent of the aurora zone. Discrete aurora are sharply defined feature within the diffuse aurora which vary in brightness from just barely visible naked eye to the bright enough to read a newspaper at night. Discrete aurorae are usually observed only in the night sky because they are not as bright as the sunlit sky.

        In the nothern latitudes, the effect is known as the aurora borealis (or the nothern lights), named after the Roman goddess of dawn, Aurora and the Greek name for the north wind, Boreas, by Pierre Gassendi in 1621. Its southen counterpart, the aurora australis or the south lights, has almost identical features to the aurora borealis and changes simultaneously with the changes in the northern auroral zone and is visible from high southern latitudes in Antartica, South America and Australia.

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 5: Soal, kunci dan pedoman penskoran

Read the following text!

Question:

Aurora

An Aurora is a natural light display in the sky particularly in the high latitude (Arctic and Antartic) regions, caused by the collision of energetic charged particles with atoms in the high altitude atmosphere (thermosphere). The charged particles originate in the magnetosphere and solar wind are directed by the Earth’s magnetic field into the atmosphere. Most auroras occur in a band known as the aurora zone which is typically 3 to 6 in latitudinal extent and all local times or longitudes.

         Aurora is classified as diffuse or discrete aurora. The diffuse aurora is a featureless glow in the sky which may not be visible to the naked eye even in a dark night and defines the extent of the aurora zone. Discrete aurora are sharply defined feature within the diffuse aurora which vary in brightness from just barely visible naked eye to the bright enough to read a newspaper at night. Discrete aurorae are usually observed only in the night sky because they are not as bright as the sunlit sky.

        In the nothern latitudes, the effect is known as the aurora borealis (or the nothern lights), named after the Roman goddess of dawn, Aurora and the Greek name for the north wind, Boreas, by Pierre Gassendi in 1621. Its southen counterpart, the aurora australis or the south lights, has almost identical features to the aurora borealis and changes simultaneously with the changes in the northern auroral zone and is visible from high southern latitudes in Antartica, South America and Australia.

1.            The following are some facts about aurora, except...

a.       It is diffuse or discrete

b.      It is always bright enough for people to read newspaper at night

c.       It can be seen in Arctic and Antartic

d.      It is caused by the collision of charged particles and atoms in the thermosphere.

2.      What is the main idea of the second paragraph?

a.       The diffuse aurora is featurless glow in the sky

b.      The discrete auroras are sharply defined features within the diffuse aurora

c.       Discrete aurora are usually observed only in the night sky

d.      There are two kinds of aurora, diffuse and discrete aurora

3.      We know from the text that....

a.       An aurora is very beautiful

b.      Aurora can be seen in the north and south poles

c.       Discrete aurora is more beautiful than diffuse aurora

d.      Diffuse aurora is sharply defined feature

II. URAIAN

4.      Analyze the social function of the text above!

5.      Analyze the generic structure of the text above!

Rubrik Penilaian :

No

Uraian

Skor

1.

 

2.

 

3.

 

4.

 

5.

 

6.

Jawaban benar, tata bahasa benar, pilihan kata tepat dan penulisan kata benar

Jawaban benar, tata bahasa kurang tepat, pilihan kata tepat dan penulisan kata benar

Jawaban benar, tata bahasa kurang tepat, pilihan kata kurang tepat dan penulisan kata kurang benar

Jawaban kurang tepat, tata bahasa kurang tepat, pilihan kata kurang tepat dan penulisan kata kurang benar

Jawaban kurang tepat, tata bahasa kurang tepat, pilihan kata salah dan penulisan kata salah

Jawaban salah, tata bahasa salah, pilihan kata salah dan penulisan kata salah

5

 

4

 

3

 

2

 

1

 

0

·         Pedoman Penskoran

N

=

Skor yang diperoleh

X

100

Skor maksimal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

R-9 Rubrik  Laporan Best Practise

Rubrik ini digunakan fasilitator untuk menilai hasil refleksi dari peserta.

A.    Langkah-langkah penilaian hasil kajian:

1.      Cermati tugas yang diberikan kepada peserta pembekalan pada LK-9!

2.      Berikan nilai pada hasil kajian berdasarkan penilaian anda terhadap hasil kerja peserta sesuai rubrik berikut!

 

B.     Kegiatan Praktik

1.      Memuat Lembar Judul

2.      Memuat Halaman Pengesahan yang ditanda tangani Kepala Sekolah

3.      Memuat Biodata Penulis dengan lengkap

4.      Memuat Kata Pengantar, Daftar Isi dan Daftar Lampiran

5.      Menguraikan Latar Belakang Masalah dari kesenjangan harapan dengan kenyataan yang ada dengan jelas

6.      Menguraikan jenis dan manfaat kegiatan dengan jelas

7.      Memuat tujuan dan sasaran, Bahan/Materi Kegiatan, Metode/Cara Melaksanakan Kegiatan, Alat/Instrumen, Waktu dan Tenpat Kegiatan dengan jelas

8.      Menguraikan hasil kegiatan dengan penjelasan hasil yang diperoleh, masalah yang dihadapi dan cara mengatasi masalah tersebut dengan jelas

9.      Memuat simpulan dan rekomendasi yang relevan

10.  Memuat daftar pustaka sesuai materi yang dituangkan

11.  Memuat lampiran yang dilengkapi dokumentasi, instrumen dan hasil pembelajaran

Rubrik Penilaian:

Nilai

Rubrik

90 < nilai £ 100

Sebelas aspek sesuai dengan kriteria

80 < nilai £ 90

Sembilan  aspek sesuai dengan kriteria, dua aspek kurang sesuai

70 < nilai £ 80

Tujuh sesuai dengan kriteria, empat aspek kurang sesuai

60 < nilai £ 70

Lima sesuai dengan kriteria, enam aspek kurang sesuai

<60

Empat aspek sesuai dengan kriteria, tujuh aspek kurang sesuai

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOAL UTS BAHASA INGGRIS KELAS IX Semester Ganjil

  UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS) SMP   NEGERI 2 NAINGGOLAN Mata Pelajaran                    : Bahasa Inggris Kelas                      ...